Tag Archives: ikhlas

IKHLAS ADALAH KUNCI SHALAT YANG BERMUTU

IKHLAS ADALAH KUNCI SHALAT YANG BERMUTU
(Sebuat Catatan Penting Dalam Memperingati Isro’ Wal Mi’roj Nabi Muhammad SAW.)

Oleh: Isa Ansori

Dalam rangka memperingati Isro’ wal Mi’roj Nabi Muhammad SAW., sejenak marilah kita kaji ibadah shalat yang selama ini telah kita kerjakan, karena shalat adalah oleh-oleh terpenting yang di dapat Rasulullah Muhammad SAW. dalam perjalanan Isro’ wal Mi’roj, sehingga diketahui sudahkah tercapai apa yang dikehendaki Allah dari shalat dalam kehidupan kita sehari-hari?.

Tentang shalat sebagai oleh-oleh Rasul dalam Isra’ wal Mi’rojnya, tertuang dalam hadis beliau yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

قالَ ابْنُ حَزْمٍ وَأَنَسُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَفَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى أُمَّتِي خَمْسِينَ صَلَاةً فَرَجَعْتُ بِذَلِكَ حَتَّى مَرَرْتُ عَلَى مُوسَى فَقَالَ مَا فَرَضَ اللَّهُ لَكَ عَلَى أُمَّتِكَ قُلْتُ فَرَضَ خَمْسِينَ صَلَاةً قَالَ فَارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَإِنَّ أُمَّتَكَ لَا تُطِيقُ ذَلِكَ فَرَاجَعْتُ فَوَضَعَ شَطْرَهَا فَرَجَعْتُ إِلَى مُوسَى قُلْتُ وَضَعَ شَطْرَهَا فَقَالَ رَاجِعْ رَبَّكَ فَإِنَّ أُمَّتَكَ لَا تُطِيقُ فَرَاجَعْتُ فَوَضَعَ شَطْرَهَا فَرَجَعْتُ إِلَيْهِ فَقَالَ ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَإِنَّ أُمَّتَكَ لَا تُطِيقُ ذَلِكَ فَرَاجَعْتُهُ فَقَالَ هِيَ خَمْسٌ وَهِيَ خَمْسُونَ لَا يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدَيَّ فَرَجَعْتُ إِلَى مُوسَى فَقَالَ رَاجِعْ رَبَّكَ فَقُلْتُ اسْتَحْيَيْتُ مِنْ رَبِّي ثُمَّ انْطَلَقَ بِي حَتَّى انْتَهَى بِي إِلَى سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى وَغَشِيَهَا أَلْوَانٌ لَا أَدْرِي مَا هِيَ ثُمَّ أُدْخِلْتُ الْجَنَّةَ فَإِذَا فِيهَا حَبَايِلُ اللُّؤْلُؤِ وَإِذَا تُرَابُهَا الْمِسْكُ

“Berkata Ibn Hazm dan Anas bin Malik: Nabi SAW. bersabda: “Allah Azza wa Jalla telah memfardhukan umatku 50 shalat, lalu aku pulang dengan membawa kewajiban itu, sehingga ketika aku bertemu Musa AS. Beliau menanyaiku: “Allah telah mewajibkan apa kepada umatmu?” Aku menjawab Allah telah mewajibkan 50 shalat”. Musa berkata: “Kembalilah pada Tuhanmu, karena umatmu tidak akan mampu melaksanakan itu!”. Lalu aku kembali kepada Tuhanku dan Tuhanku memberikan pengurangan separonya, lalu aku kembali menemui Musa. Musa berkata lagi: “Kembali lagi kepada Tuhanmu, karena umatmu tidak akan mampu melaksanakan kewajiban itu!”. Lalu aku kembali lagi menemui Tuhanku, lalu Tuhanku berfirman: “baiklah kewajibannya 5 shalat saja dan itu setara dengan yang 50, jangan lagi diganti ucapanku!”. Lalu aku kembali menemui Musa. Dan Musa berkata: “Kembali lagi kepada Tuhanmu!”. Lalu aku menjawab: “Aku malu kepada Tuhanku”. Kemudian Jibril pergi bersamaku sehingga sampai di Sidratul Muntaha yang dilingkupi oleh beragam warna aku tak mengetahui apa itu, kemudian aku dimasukkan ke dalam surga, lalu aku dapati di dalamnya intan permata dengan debu dari minyak kesturi”. (HR. Bukhari)

Sungguh kekhawatiran nabi Musa bahwa umat nabi Muhammad akan merasa berat untuk melaksanakan ibadah shalat bukan tanpa alasan, Allah SWT. sendiri telah mengingatkan bahwa shalat adalah sesuatu yang berat untuk dilaksanakan. Hanya orang-orang yang ikhlas dalam mengabdi kepadaNya sajalah yang mampu melakukannya, sebagaimana firmanNya:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu` (Al-Baqarah: 45).

Cobalah perhatikan, bukankah banyak diantara kita yang mengaku Muslim tapi tidak mendirikan shalat?. Apabila kita ajak mereka untuk menunaikan shalat, mereka enggan melaksanakannya, bahkan malah mengejek ajakan itu, seperti Allah sebutkan dalam firmannya:

وَإِذَا نَادَيْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ اتَّخَذُوهَا هُزُوًا وَلَعِبًا ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ

“Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) shalat, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal”. (al-Maidah: 58)

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan”. (Maryam: 59)

Dan bagi kita yang merasa telah shalat, sekali lagi perhatikan, sudah benarkah shalat yang selama ini kita laksanakan?. Lihatlah, hawa nafsu angkara murka banyak menyebabkan kita tidak ikhlas dalam menyembah Allah Azza wa Jalla. Marilah kita berlindung kepada Allah dari perbuatan orang munafik seperti yang disebutkan Allah dalam firman ini:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali”. (An-Nisa: 142)

Padahal shalat adalah salah satu sendi agama Islam. Nilai-nilai ajaran Islam tak akan berdiri kokoh pada pribadi-pribadi yang meninggalkan salah satu dari sendi-sendi penopangnya. Ini akan berakibat pada mudahnya melanggar nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Rasul SAW. bersabda:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ. رواه البخاري

“Rasulullah SAW. bersabda: “Islam dibangun di atas lima asas: Syahadat bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan kecuali Allah dan sesunggunya Muhammad adalah utusan Allah; Mendirikan shalat; Menunaikan zakat; Haji; dan puasa bulan Ramadhan”. (HR. Bukhari)

Shalat adalah pembada antara orang yang berhak mendapat sebutan Muslim dengan orang yang disebut kafir, sebagaimana sabda Rasulullah SAW.:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ الصَّلَاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ. رواه الترمذي

“Rasulullah SAW. bersabda: “Janji (yang membedakan) antara kita dan mereka (kafir) adalah shalat. Maka barangsiapa yang meninggalkan shalat, maka sungguh ia telah kafir. (HR. At-Turmudzi)

Mari kita kembali kepada satu kata kunci “Ikhlas”, untuk menghasilkan ibadah shalat yang terbaik. Allah SWT. telah mengingatkan agar kita senantiasa ikhlas dalam beribadah mengabdi kepadaNya, ialah dengan semata mengharapkan ‘keridhaan-Nya’.

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (al-Bayyinah:5)

Rabithah al Adawiyah telah menunjukkan kepada kita bagaimana seharusnya seorang Muslim ikhlas dalam mengabdi kepadaNya, seperti dalam inti ucapanya: “Ya Allah, andaikan aku dalam beribadah mengabdi kepadaMu, karena harapanku untuk mendapatkan sorgamu, jauhkanlah sorga itu dariku. Ya Allah, andaikan aku dalam beribadah mengabdi kepadaMu, karena takutku pada nerakaMu, masukkan saja aku ke dalamnya. Aku beribadah adalah ikhlas mengharapkan ridhaMu, maka pertemukanlah aku denganMu”.

Shalat yang dilaksanakan dengan ikhlas dan benar akan menimbulkan dampak ketaqwaan kepada Allah yang luar biasa, dengan semakin giat untuk melaksanakan segala apa yang Allah perintahkan dan menjauhi segala apa yang Allah larang yaitu perbuatan munkar, semuanya ikhlas lillahita’ala. Allah berfirman:

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (al-Ankabut: 45)

Sehinga, betapapun tersibukkannya seseorang dengan kehidupan dunia, shalat takkan pernah terlalaikan:

رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ

“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang”. (an-Nur:18)

Dan pekerjaan-pekerjaan dunia itu akan ia lanjutkan kembali setelah shalat usai dilaksanakan:

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. (al-Jumuah: 10)

Selanjutnya, dalam melaksanakan segala aktivitas kehidupan dunia, sekejappun Allah tak terlupakan, hati tertambat kepadaNya, dipenuhi dengan dzikir dan mengingatNya, sehingga tak ada kesempatan untuk mendurhakaiNya dengan berbuat curang dalam segala aktivitas kehidupan. Allah berfirman:

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat (mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. (an-Nisa’:103)

Iklan

Berbuat Dengan Ikhlas Karena Allah SWT.

BERBUAT DENGAN IKHLAS KARENA ALLAH SWT.
Oleh: Isa Ansori

Tujuan Hidup Manusia Adalah Beribadah Kepada Allah dengan Ikhlas

Allah mengangkat manusia sebagai khalifah di muka bumi yang diberi amanat dan kekuasaan untuk mengatur dan mendayagunakan bumi untuk kemakmuran dan kesejahteraan umat manusia dalam upaya pengabdiannya kepada Allah SWT. Firman Allah:

إناعرضناالامانةعلىالسموت والارض والجبال فأبين أن يحملنها واسفقنا منها وحملها الانسان انه كان ظلوما جهولا (الاحزاب: 72

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan menghianatinya dan dipikullah amanat itu oleh manusia, sesungguhnya manusia itu amat Dzalim dan amat bodoh” (Al Ahzab: 72).

Amanat yang dimaksud adalah perjanjian yang dibuat antar manusia dengan Allah ketika di dalam alam kandungan ibunya. Allah berfirman

وإذأخذربك من بني ادم من ظهورهم ذريتهم واشهدهم على انفسهم الست بربكم قالوا بلى شهدنا ان تقولوا يوم القيمة اناكنا عن هذا غفلين (الاعراف: 172

“Dan( ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul Engkau Tuhan kami, kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keEsaan Tuhan)”. (Al A’rof: 172).

Sesungguhnya inti dari amanat Allah tersebut adalah kesanggupan umat manusia untuk selalu mengabdi dan beribadah kepada Allah sepanjang hidupnya di dunia hingga akhirat. Ini sesuai dengan tujuan Allah menciptakan umat manusia, adalah untuk semata-mata menyembah, mengabdi, memuji, mengagungkanNya dan mengakui kekuasaanNya, juga mengakui kedudukan manusia sebagai hambaNya. Allah berfirman:

وما خلقت الجن والإنس الا ليعبدون (الذريات: 56)

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu. (Adzariyat: 56).

Karenanya, apapun wujud gerak panca indera manusia dalam melakukan proses menunaikan amanatnya baik dalam bentuk ibadah mahdoh seperti shalat lima waktu, puasa, zakat, haji ataupun ibadah ghoiru mahdhoh seperti bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, melakukan ibadah sosial, mengurus masyarakat, amar ma’ruf nahi munkar bahkan dalam setiap hirupan napas, kedipan mata, gerakan tangan dan kaki, dan semua gerak anggauta badan lainnya dan lebih bahkan lagi gerak-gerik hati manusia hendaknya diniatkan beribadah lillahi ta’ala dan untuk mendapatkan ridho Allah SWT.

Karena memang semua gerak-gerik panca indera dan hati akan ditanya oleh Allah pada hari kiamat, sudahkah mereka pada waktu di dunia digunakan untuk beribadah kepada Allah, ataukah malah untuk bermaksiat kepadaNya. Allah berfirman:

ولاتقف ماليس لك به علم ان السمع والبصر والفؤاد كل اولئك كان عنه مسئولا (الاسرأ: 36

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggunganjawabnya”. (Al Isro: 36).

Pada hari kiamat justru tangan dan kaki akan bersaksi terhadap apa yang mereka lakukan. Firman Allah:

اليوم نختم على افواههم وتكلمناايدهم وتشهد ارجلهم بماكانوا يكسبون (يس: 65

“Pada hari kiamat Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan”. (Yasin: 65).

Allah menginginkan agar manusia ikhlas dalam menggerakkan hati dan anggauta badannya baik ketika beribadah mahdhoh atau ghoiru mahdhoh, ialah murni karena beribadah kepadaNya dan mengharapkan ridhaNya. Sebagaimana Firman Allah:

وما امروا الا ليعبدالله مخلصين له الدين حنفاء ويقيمواالصلاةويؤتواالزكاة وذلك دين القيمة (البينة: 5)

“Dan mereka tidaklah disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam menjalankan agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus” (Al Bayyinah: 5).

Niat lillahi Ta’ala Kunci Keikhlasan

Kita telah tahu betapa pentingnya ikhlas lilLahi Ta’ala dalam setiap aktivitas hidup. Kunci penentu keikhlasan terletak pada niat saat awal kita melakukan suatu aktivitas. Tidak berniat atau salah dalam berniat akan berakibat fatal, karena dapat berujung tidak bernilai dimata Allah. Nilai akhir suatu perbuatan dalam Islam tergantung pada niat si pelaku perbuatan. Rasulullah SAW. bersabda:

وعن أمير المؤمنين أبى حفص عمربن الخطاب بن نفيل بن عبدالعزي بن رياح ابن عبدالله بن قرط بن زاح بن عدي بن كعب بن لؤى بن غالب القرشى العدوي رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله ص م يقول: إنما الأعمال بالنيات وانما لكل امرئ ما نوى, فمن كانت هجرته الى الله ورسوله فهجرته الى الله ورسوله, ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها اوامرأة ينكحها فهجرته الى ما هاجر اليه. متفق عليه.

“Dari Amirul Mukminin Abi Hafs Umar bin Khatab bin Nufail bn Abdul Uza bin Riyah ibn Abdullah bin Qarth bin Zah bin Adi bin Kaab bin Lu’ay bin Ghalib al-Qurasy al Adwy ra. Berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung dengan niatnya, dan sesungguhnya setiap orang (mendapatkan balasan dari Allah) sesuai apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa hijrahnya karena Allah dan RasulNya, maka hijrahnya (dibalas oleh Allah) karena Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa hijrahnya karena untuk mendapatkan dunia maka ia mendapat dunia atau seorang perempuan yang akan ia nikahi maka hirjah dia itu kepada apa yang ia hijrahi”. (HR. Bukhari Muslim).

Hendaklah selalu kita berniat karena Allah dan mencari ridha Allah dalam setiap gerak-gerik anggauta badan kita, dengan demikian manakala kita akan melakukan suatu perbuatan yang dibenci Allah hati akan menegur: “Jangan lakukan, ini tidak karena Allah”.

Amal-Amal Perusak Keikhlasan lillahi Ta’ala

Dalam proses menunaikan amanat Allah, banyak godaan syaithan datang mengganggu keteguhan dan keikhlasan manusia dalam beribadah kepadaNya. Karena memang Syaithan senantiasa mengajak manusia ke jalan kesesatan untuk mereka jadikan teman hidup di neraka. Semua orang akan menjadi kawan Syaithan kecuali hamba-hamba Allah yang betul-betul ikhlas dalam beribadah kepadaNya.

قال رب بمااغويتني لازينن لهم فى الارض ولاغوينهم اجمعين. الا عبادك منهم المخلصين. قال هذا صرط مستقيم. ان عبادي ليس لك عليهم سلطن الا من اتبعك من الغاوين. وان جهنم لموعدهم اجمعين (الحجر: 39-34)

“Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka (manusia) memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka. Allah berfirman: “Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Akulah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hambaku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat. Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut Syaithan) semuanya. (Hijr: 39-43).

Amalan-amalan Syaithan yang dapat merusak keikhlasan seseorang dalam beribadah kepada Allah adalah:

1. Syirik, adalah perbuatan mensekutukan Allah. Seseorang percaya bahwa Allah adalah Tuhannya dan kepadaNya ia mengabdi, namun dalam hatinya ia juga menganggap ada sesuatu lain yang dapat memberinya pertolongan, kekuatan, kehormatan dan lainnya, seperti dukun, azimat, tahta, kekuasan dan sebagainya, ini berarti ia tidak ikhlas dalam mengabdi kepada Allah. Padahal hanya Allahlah yang dapat memberi pertolongan, kekuatan dan lainnya. Segala apapun di dunia ini adalah milik Allah termasuk jiwa raganya.

2. Riya, adalah perbuatan memamerkan suatu yang dimiliki seseorang kepada orang lain dan merasa bangga dan senang apabila orang lain takjub dan kagum dengan apa yang ia pamerkan, ia senang orang lain memuji pada apa yang ia miliki. Orang riya’ lupa bahwa manusia tidak memiliki apapun, karena segala sesuatu adalah milik Allah, InnalilLah wa inna ilaiHi roji’un. Ia tidak ikhlas untuk menyerahkan bahwa segala sesuatu adalah milik Allah, ia tidak memiliki apapun bahkan jiwa dan raganya.

3. Sombong/Takabur, adalah perasaan memandang remeh dan rendah orang lain, dan menganggap dirinya orang yang super paling dari perasaan yang ia banggakan. Dia merasa bahwa dia adalah yang paling pandai, cantik, kaya, dan sebagainya. Orang lain harus mengakui itu dan merasa bangga bila orang lain merunduk-runduk dihadapannya. Orang sombong tidak ikhlas bahwa Allahlah yang paling hebat dalam segala hal. Ia lupa bahwa apapun adalah milik Allah dan ia tidak mempunyai sedikitpun yang dapat disombongkan.

4. Dan seluruh perasaan-persaan yang diluar lilLahi Ta’ala.