Muhammad Diutus Untuk Menyempurnakan Akhlak Mulia

MUHAMMAD DIUTUS UNTUK MENYEMPURNAKAN AKHLAK MULIA
(Memperingati Maulid Nabi S.A.W.)
Oleh: Isa Ansori

Pada bulan Rabiul Awal lebih dari 14 Abad yang lalu, Allah telah menurunkan seorang hamba IstimewaNya ke dunia. Dia adalah Muhammad Rasulullah SAW. yang mengemban misi penting untuk membentuk akhlak umat manusia mulya dan sempurna sebagaimana yang Allah kehendaki.

Allah SWT. memiliki maksud tertentu menciptakan umat manusia, yaitu sebagai khalifah (penguasa, pengatur) bumi dalam rangka ikhlas beribadah kepadaNya. Manusia adalah makhluk yang diciptakan dengan memiliki hawa nafsu. Hawa nafsu inilah yang mendorong manusia untuk selalu dinamis berubah ke segala arah. Dengan hawa nafsu manusia dapat memrubah dunia ke zaman modern seperti saat ini dan akan terus berkembang ke masa yang lebih modern di masa yang akan datang. Dan hawa nafsu pula jika tanpa dikendalikan sebagai pendorong kuat untuk memunculkan perbuatan-perbuatan tercela dan kerusakan-kerusakan di muka bumi. Inilah hawa nafsu manusia yang diucapkan oleh Nabi Yusuf dalam firman Allah:

وَمَا أُبَرِّىءُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلاَّ مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Yusuf: 53)

Kecenderungan hawa nafsu yang tak terkontrol sehingga banyak melahirkan perbuatan-perbuatan maksiat dan kerusakan-kerusakan di muka bumi telah lama dikhawatirkan oleh para malaikat ketika Allah mengutarakan maksudnya kepada para malaikat bahwa Allah akan menciptakan makhluk manusia sebagai khalifah (penguasa, pengatur) di muka bumi. Firman Allah:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُواْ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (Al-Baqarah: 30)

Dan kekhawatiran malaikat ini telah terbukti, betapa kita saksikan, berapa banyak manusia tanpa dosa terbunuh baik oleh pribadi-prabadi atau perang yang menghancurkan sendi-sendi kemanusiaan. Berapa banyak kemaksiatan terjadi disekitar kita, dikerjakan dengan terang-terangan tanpa malu-malu: berjudi, mabuk-mabukan, berzina, merampas harta orang lain tanpa hak dari pencurian kelas teri hingga korupsi yang menelan harta masyarakat trilyunan rupiah dan beragam kemaksiatan lainnya hingga mengganggu sendi-sendi kehidupan normal di masyarakat, kesemuanya terus menerus terjadi hingga saat ini. (Lebih jauh tentang nafsu manusia akan kami bahas dalam tulisan tersendiri, insya Allah).

Kerusakan akhlak terus terjadi merajalela. Akankah nafsu angkaramurka akan terus kita perturutkan? Jawabnya tanyakanlah pada diri sendiri. Jangan mudah menyalahkan pihak lain, karena setiap kita adalah bernafsu.

Dan ini adalah salah satu alasan mengapa Allah menurunkan Muhammad SAW. di tengah-tengah manusia. Tiada lain untuk membimbing nafsu manusia bagaimana seharusnya ia dibimbing, dikendalikan dan diarahkan. Rasulullah SAW. bersabda:

إنما بعثت لأتم صالح الاخلق

”Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang sholeh”. (HR: Bukhari dalam shahih Bukhari kitab adab, Baihaqi dalam kitab syu’bil Iman dan Hakim).

Hadis dari Anas dia menyatakan:

كان احسن الناس خلقا

“Nabi SAW. adalah manusia dengan akhlak yang terbaik”. (HR: Muslim dan Abu Dawud).

Aisyah menyebut akhlak Rasulullah SAW. adalah Al-Qur’an.

Allah sendiri memuji akhlak Rasulullah SAW dengan menyebut:

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (Al-Qalam: 4).

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (Al-Ahzab: 21)

Jelaslah siapa saja yang menginginkan kehidupan di dunia hingga akhirat berjalan normal sebagaimana yang dikehendaki Allah SWT. tiada jalan lain kecuali kembali mengamalkan ajaran Al-Qur’an dan Hadis dalam kehidupannya sehari-hari. Sebab Al-Qur’an diturunkan adalah sebagai petunjuk bagi orang yang bertakwa, dan dengan ketakwaan inilah kehidupan dunia hingga akhirat akan berlangsung normal. Tentang hal ini silakan Anda baca tulisan kami lainnya di: “Musibah: Antara Azab dan Ujian”.
Firman Allah:

الم. ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

“Alif laam miim . Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa”. (Al-Baqarah: 1-2)

Rasulullah SAW. sendiri menyebutkan:

تركت فيكم شيئين لن تضلوا بعدهما كتاب الله وسنتى

“Aku Tinggalkan padamu dua perkara, kamu semua tidak akan sesat selamanya (dengan berpegang teguh kepada keduanya) ialah Kitab Allah dan Sunnahku”.

Dan bagi siapa saja yang mengabaikan Al-Qur’an dengan memperturutkan nafsu angkaramurkanya maka kehidupan dunia akan menjadi tidak normal. Dan pada hari kiamat azab Allah yang pedih telah menanti. Firman Allah:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى. قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنتُ بَصِيرًا. قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنسَى. وَكَذَلِكَ نَجْزِي مَنْ أَسْرَفَ وَلَمْ يُؤْمِن بِآيَاتِ رَبِّهِ وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَشَدُّ وَأَبْقَى

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?”. Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan”. Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal”. (Thaha: 124-127)

Tujuan akhir dari diutusnya Muhammad adalah terciptanya ketentraman, kebahagian dan kesejahteraan hidup seluruh makhluk di seluruh dunia hingga akhirat. Firman Allah:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu Muhammad, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (Al-Anbiya’: 107)
Iklan

MUSIBAH: ANTARA AZAB DAN UJIAN

MUSIBAH: ANTARA AZAB DAN UJIAN
Oleh : Isa Ansori

Dalam satu dekade terakhir, beragam musibah mendera bangsa Indonesia. Dimulai dari krisis moneter sekitar tahun 1997 yang mendorong naiknya harga semua kebutuhan hidup primer dan skunder sehingga mayoritas masyarakat menjadi miskin dan sulit memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Penyebab keadaan ini sangat komplek, yang banyak disebut adalah karena kuatnya korupsi, kolusi dan nepotisme yang seakan membudaya pada rezim Orde Baru (dan sepertinya terus berlanjut hingga saat ini meski usaha untuk memberantasnya digalakkan), sehingga memaksa rezim ini runtuh dan digantikan oleh penguasa era reformasi. Belum lama pemerintah era reformasi membenahi Indonesia untuk lebih baik, beragam musibah kembali mendera, bencana alam datang silih berganti dari gempa bumi dan tsunami yang meluluhlantahkan ujung pulau Sumatera Aceh dan sekitarnya menelan ratusan ribu korban jiwa dan harta benda yang tak ternilai, hingga gunung meletus, banjir, angin puting beliung, kebakaran hutan, lumpur, beragam kecelakaan sarana transportasi baik darat, laut maupun udara dan masih banyak lagi sederat musibah yang terjadi hingga saat ini terus menghampiri seolah tak pernah berhenti.

Bertanyalah kita mengapa semua ini terjadi? Dan Bagaimanakah seorang Muslim menyikapi?
Menjawab pertanyaan ini, kita mulai dari maksud dan tujuan Allah menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Allah menciptakan jin dan manusia tiada lain adalah untuk semata beribadah dan mengabdi dengan ikhlas kepadaNya.
Untuk menuntun umat manusia agar selalu berada pada jalan lurus yang diridhaiNya, Allah telah menurunkan Al-Qur’an melalui RasulNya Muhammad SAW. Al-Qur’an adalah petunjuk bagi orang yang bertaqwa. Firman Allah:

الم. ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ. البقرة:1-2
“Alif laam miim. Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa”. (Al-Baqarah: 1-2)

Al-Quran menjelaskan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan oleh manusia dan juga yang harus di jauhi untuk menggapai kesuksesan dan kebahagiaan hidup di dunia hingga akhirat. Inilah jalan yang lurus yang harus dilewati manusia jika menginginkan keselamatan, keberuntungan dan kesuksesan di dunia hingga setelah masa kematiannya. Jika tidak maka kekakacauan sosial dan bencana akan menimpa manusia di dunia dan setelah kematiannya. Adanya kehidupan dunia yang bersambung terus ke alam setelah kematian adalah suatu ujian adakah manusia telah menyembah dan beribadah sesuai dengan kehendakNya. Firman Allah:
تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ. الملك:1-2
Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (Al-Mulk: 1-2)

Allah Maha Adil dalam menilai dan membalas amal perbuatan manusia. Barang siapa berbuat baik dengan sesamanya dan alam lingkungan sekitarnya maka balasan kebaikan diterima berupa ketentraman dan kesejahteraan hidup di dunia hingga akhirat dan sebaliknya siapa yang membuat kerusakan dan kekacauan pada sesama dan alam lingkungan sekitarnya, maka kekakacauan hidup dan bencana akan ia terima di dunia dan akhirat. Manusia adalah makhluk sosial, setiap tindakan individu akan berimplikasi pada individu yang lain. Dan setiap individu akan dimintai pertanggungjawaban terhadap setiap apa yang ia kerjakan. Firman Allah:

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ. وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ. الزلزلة: 1-2
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula”. (Al-Zalzalah: 1-2)
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ. الروم: 41

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (Ar-Rum: 41)

Dengan demikian beragam musibah baik berupa kesulitan hidup atau bencana alam bila kita lihat dari kaca mata ini dapat berarti:

1. Azab atau murka Allah kepada mahluknya karena telah melanggar kewajiban untuk selalu menyembah dan mengabdi kepadaNya dalam seluruh tindakan, baik dalam pergaulan dengan sesama atau alam sekitar. Korupsi, kolusi, nepotisme tak berdasar, riba, judi, zina, mencuri dan beragam maksiat lain yang dilarang Allah akan mengakibatkan kekacauan tatanan kehidupan manusia. Sementara perusakan alam akan mengakibatkan rusaknya ekosistem dan keteraturan alam. Semua kesulitan hidup dan bencana itu tidak hanya ditanggung oleh si pelaku tetapi juga semua orang di sekitarnya. Firman Allah:

وَاتَّقُواْ فِتْنَةً لاَّ تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ . ألأنفال: 25

“Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya”. (Al-Anfal: 25).

وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِّن نَّبِيٍّ إِلاَّ أَخَذْنَا أَهْلَهَا بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَضَّرَّعُونَ . ثُمَّ بَدَّلْنَا مَكَانَ السَّيِّئَةِ الْحَسَنَةَ حَتَّى عَفَواْ وَّقَالُواْ قَدْ مَسَّ آبَاءَنَا الضَّرَّاءُ وَالسَّرَّاءُ فَأَخَذْنَاهُم بَغْتَةً وَهُمْ لاَ يَشْعُرُونَ . وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُواْ وَاتَّقَوْاْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلَكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ . الأعراف: 95-97

“Kami tidaklah mengutus seseorang nabipun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri. Kemudian Kami ganti kesusahan itu dengan kesenangan hingga keturunan dan harta mereka bertambah banyak, dan mereka berkata: “Sesungguhnya nenek moyang kamipun telah merasai penderitaan dan kesenangan”, maka Kami timpakan siksaan atas mereka dengan sekonyong-konyong sedang mereka tidak menyadarinya. Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. (Al-A’raf: 95-97)

2. Ujian bagi orang yang beriman untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمْوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ . الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعونَ . أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ. البقرة: 155-157

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Al-Baqarah: 155-157)

Rasulullah SAW. bersabda:

عن آنس رضىالله عنه قال قال رسول الله صلىالله عليه وسلم: إذا اراد الله بعبده الشر امسك عنه بذنبه حتى يوفى به يوم القيمة و قال النبى صلىالله عليه وسلم إن عظم الجزاء مع عظم البلاء وان الله تعلى إذا احب قوما ابتلاهم فمن رضى فله الرضا ومن سخط فله السخط. رواه ترمذى

“Dari Anas RA berkata telah bersabda Rasulullah SAW: “Jika Allah menghendaki pada seorang hambanya dengan suatu kejelakan maka Allah akan menahan dosa-dosanya sehingga dia dibalas pada hari kiamat”, Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya pahala yang besar itu disertai besarnya ujian, dan sesungguhnya Allah Ta’ala apabila Dia mencintai suatu kaum maka Allah akan menguji mereka maka barangsiapa yang ridha dengan ujian itu maka ia mendapatkan ridha Allah dan barangsiapa yang murka dengan ujian itu, maka murka Allah atas dia”. (HR. Tirmidzi).

Meraih Keberuntungan Dan Kesuksesan Dunia dan Akhirat

MERAIH KEBERUNTUNGAN DAN KESUKSESAN DUNIA DAN AKHIRAT
Oleh : Isa Ansori

Semua orang menginginkan keberuntungan dan kesuksesan hidup di dunia hingga akhirat. Ada yang mengatakan seseorang disebut beruntung dan sukses jika memiliki banyak uang dan harta benda lainnya. Tapi tahukah Anda bahwa menurut Allah semua orang adalah rugi dalam kedidupan dunia dan akhiratnya kecuali mereka masuk ke dalam ruang lingkup ini: Orang yang beriman, beramal sholeh, saling menasehati untuk selalu dalam kebenaran dan saling menasehati untuk selalu bersabar.

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. الْعَصْرِ: 1-3

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya menta’ati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (Al-Asr: 1-3)

Menurut Allah dan makhluk yang selalu ta’at kepadaNya, orang-orang yang beruntung dan sukses adalah:

1. Orang-Orang Yang Beriman

Siapakah orang yang beriman? Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Muslim ketika ditanya oleh Jibril tentang apakah iman itu, Beliau menjawab: “Hendaklah engkau percaya kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, Rasul-rasulNya, hari kiamat dan juga percaya pada qadar baik dan buruk”. Ini adalah keimanan Islam yang meyakini bahwa Allah adalah Esa, Allah tempat bergantung, Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan dan tidak ada seuatupun yang menyamaiNya. (QS: Al-Ikhlas: 1-4)

2. Beramal Sholeh.

Iman hendaknya diwujudkan dalam bentuk amal sholeh yaitu mengamalkan ajaran-ajaran Islam yakni melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi semua laranganNya seperti tercantum dalam Al-Qur’an dan Al-Hadis.
Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Hakim dari Ibnu Umar bersabda:

تركت فيكم شيئين لن تضلوا بعدهما كتاب الله وسنتى

“Aku Tinggalkan padamu dua perkara, kamu semua tidak akan sesat selamanya ialah Kitab Allah dan Sunnahku”.

Rasulullah SAW ketika ditanya oleh Jibril tentang Islam, Beliau menjawab: “Islam adalah engkau bersaksi sesungguhnya tidak ada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah, engkau dirikan shalat, menunaikan zakat, puasa bulan Ramadhan dan haji ke Baitullah jika engkau mampu”.

Secara lebih rincin Allah juga menyebutkan orang-orang mukmin yang beruntung dan sukses dalam surat Al-Mukminun 1-11:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ. الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ. وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ. وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ. وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ. إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ. فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ. وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ. وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ. أُوْلَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ. الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ. الْمُؤْمِنُونَ: 1-11

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (ya’ni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya”. (Al-Mukminun: 1-11).

Allah juga menyebut orang-orang yang berjihad di jalanNya (dalam arti luas) dengan harta benda dan jiwanya sebagai orang yang beruntung.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ. تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ. يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ. الصف: 10-12

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga Adn. Itulah keberuntungan yang besar”. (Ash-Shaaf: 10-12).

Masih banyak lagi ayat dan hadis yang menjelaskan lebih rinci tentang macam-macam amal sholeh yang tidak kami muat di sini. Kesemuanya itu hendaklah di amalkan dalam kehidupan sehari-hari bagi yang ingin beruntung dan sukses. Satu hal terpenting ketika beramal sholeh adalah niatkan kesemuanya itu ikhlas dan khusyu’ beribadah karena semata mengharap ridha Allah SWT. Rasulullah SAW ketika ditanya oleh Jibril tentang Ihsan beliau menjawab: “Engkau sembah dan beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat Allah. Jika engkau tidak dapat melihatNya, sesungguhnya Dia melihat engkau”.

3. Saling Berwasiat Untuk Selalu Melaksanakan Kebenaran Dari Allah

Setelah beriman dan beramal sholeh, agar iman dan amal sholeh itu dapat istiqomah, diperlukan suatu upaya untuk mlestarikannya ialah dengan saling berwasiat khususnya bagi sesama orang beriman dan umumnya kepada semua orang untuk selalu berada dalam kebenaran yang telah Allah tunjukkan dalam Al-Qur’an dan Hadis RasulNya. Wujud dari wasiat ini adalah dakwah amar ma’ruf dan nahi munkar. Allah berfirman:

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ. ال عمران: 104
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung” (Ali Imran: 104).

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ. آل عمران: 110

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”. (Ali Imron: 110)

Setiap orang dalam Islam mempunyai tanggung jawab untuk mengajak dirinya dan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya untuk selalu bertaqwa kepada Allah serta mencegah dirinya dan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya bermaksiat kepada Allah. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ. (التحريم : 6)

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (At-Tahrim: 6)

Nabi SAW bersabda:

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: كلكم راع فمسئول عن رعيته, فالأمير الذي علي الناس راع وهو مسئول عنهم, والرجل راع علي أهل بيته وهو مسئول عنهم, والمرأة راعية علي بيت بعلها وولده وهي مسئولة عنهم, والعبد راع علي مال سيده وهو مسئول عنه, ألافكلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته. اخرجه البخاري

Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Setiap kamu adalah pemimpin yang akan dimintai tanggung jawab atas kepemimpinannya, Amir yang menjadi penguasa atas manusia adalah pemimpin dia akan dimintai tanggung jawab atas mereka. Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarga di rumahnya dan dia akan dimintai tanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya dan anak-anaknya, dia dimintai tanggung jawab atas mereka. Seorang hamba adalah pemimpin atas harta tuannya, dia dimintai tanggung jawab atasnya. Ketahuilah masing-masing kamu adalah pemimpin dan dimintai tanggung jawab atas kepemimpinannya”. (HR. Bukhari)

Jelas bahwa setiap orang bertanggung jawab agar iman dan amal sholeh dapat istiqamah atau konsisten dijalankan agar keberuntungan dan kesuksesan didapatkan, dan usaha untuk menjaga agar tetap konsisten adalah dengan mendakwahi diri dan orang lain untuk taqwa kepada Allah. Rasulullah SAW juga bersabda:

عن أبي سعيد الخدرى رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: من راى منكم منكرا فليغيربيده,فإن لم يستطع فبلسنه,فإن لم يستطع فبقلبه,وذلك اضعف الايمان. رواه مسلم.

“Dari Abi Sa’id al Khudri RA berkata; Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa melihat diantara kamu kemunkaran maka cegahlah dengan tangannya, bila tidak mampu dengan lisannya, bila tidak mampu dengan hatinya dan yang seperti itu adalah selemah-lemahnya iman”. (HR. Muslim).

4. Saling Berwasiat Untuk Selalu Bersabar Dalam Semua Keadaan

Sungguh perjuangan melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi larangannya adalah bukan suatu pekerjaan ringan. Hawa nafsu jahat manusia selalu mengajak untuk tidak konsisten dalam melaksanakan iman, amal sholeh dan dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Godaan dan cobaan akan selalu datang untuk menguji keimanan dan ketaqwaan setiap orang. Diperlukan suatu kesabaran yang tinggi untuk dapat melaksanakan semua perintah dan menjauhi larangan dan mengahadapi segala cobaan dan ujian yang akan selalu datang. Rasulullah SAW dalam salah satu hadisnya menyatakan bahwa: Jika Allah mencintai suatu kaum maka Allah akan memberinya beragam ujian dan cobaan.

Demikian mudah-mudahan kita termasuk orang yang sukses dan beruntung. Amin.

Hisablah Diri Anda Sebelum Diri Anda Dihisab

HISABLAH DIRI ANDA SEBELUM DIRI ANDA DIHISAB
(SELAMAT TAHUN BARU 1429 H. DAN 2008 M.)

Tak terasa perjalanan hidup kita telah bertambah satu tahun. Dan kini kita menapaki tahun baru 1429 H. dan 2008 M. Selamat tahun baru semoga di tahun ini kita akan lebih baik dari tahun kemarin.

Tidada salahnya di awal tahun baru ini kita mengevaluasi dan mengkaji kembali apa yang sudah kita perbuat dalam rangka pengabdian kita kepada Allah SWT. Sudahkan kita penuhi perintah-perintahNya dan kita jauhi larangan-laranganNya? Atau malah sebaliknya? Allah SWT berfirman:

ياايهاالذين امنوا اتقواالله ولتنظر نفس ماقدمت لغد واتقوااللهقلى ان الله خبيربماتعملون. ولاتكون كالذين نسواالله فأنسهم انفسهم أولئك هم الفاسقون. لايستوي اصحب النارواصحب الجنةقلاصحب الجنة هم الفائزون. الحشر:18-20

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung”. (Al Hasyr: 18-20)

Dalam mengevaluasi diri, ingatlah kembali tujuan hidup kita di dunia. Allah menciptakan kita manusia di dunia ini tiada lain semata untuk mengabdi kepadaNya. Tentang hal ini baca kembali tulisan kami yang berjudul “Berbuat Dengan Ikhlas Karena Allah SWT.” sebelumnya. Dengan selalu memperhatikan tujuan hidup maka akan kita ketahui kearah mana hidup telah kita bawa.

Rasulullah SAW. ketika berbicara tentang kehidupan di dunia ini kepada Ibnu Umar Beliau menyatakan:

عن ابن عمر رضى الله عنهماقال: أخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم بمنكبى فقال: كن فى الدنيا كأنك غريب او عابر سبيل… رواه البخارى

Dari Ibnu Umar RA. berkata: “Rasululluah SAW memegang kedua pundakku lalu bersabda: “Jadilah kamu hidup di dunia ini seolah-olah kamu orang asing atau orang yang sedang dalam perjalanan”… (HR. Bukhari)

Ini menunjukkan dan mengingatkan kepada kita bahwa janganlah pernah sekali-kali menjadikan dunia sebagai tujuan akhir kehidupan yaitu dengan berusaha keras sekuat tenaga mengumpulkan harta benda dunia dan melalaikan bahwa setiap yang kita usahakan adalah untuk pengabdian kepadaNya. Allah berfirman:

اعلموا انماالحيوةالدنيالعب ولهو وزينة وتفاخربينكم وتكاثر فى الاموال والاولد كمثل غيث اعجب الكفر نباته ثم يهيج فتره مصفرا ثم يكون حطاما وفى الاخرة عذاب شديد ومغفرة من الله ورضوان وماالحيوةالدنيا الامتاع الغرور.سبقوا الى مغفرة من ربكم وجنة عرضهاكعرض السماء والارض اعدت للذين امنوا بالله ورسلهقلذلك فضل الله يؤتيه من يشاءقلوالله ذوالفضل العظيم. الحديد:-2120

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang kuat dan ampunan dari Allah serta keridhaanNya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. Berlomba-lombalah kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasulNya. Itulah karunia Allah, diberikannya kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar”. (Alhadid: 20-21).

Ini sama sekali bukan berarti Allah melarang kita untuk bekerja dan berusaha keras mencari harta dunia. Tapi bahkan sebaliknya Allah menyuruh kita bekerja keras untuk mendapatkan kehidupan dunia. Yang Allah inginkan adalah ketika kita bekerja keras mencari harta dunia, janganlah melupakan bahwa kita melakukan semua itu adalah karena Allah. Harta benda sebagai hasil yang kita dapatkan dari usaha keras itu nantinya kita tasarufkan di jalan Allah. Yang Allah peringatkan kepada kita dari ayat itu adalah banyak dari kita yang melupakan Allah dalam setiap usaha keras kita untuk mendapatkan dunia, lalu hasilnyapun kita tasarufkan untuk bermaksiat kepadaNya. Allah berfirman:

وابتغ فيما اتاك الله الدرالاخرة ولاتنسى نصيبك من الدنيا واحسن كما احسن الله اليك ولاتبغ الفساد فى الارض ان الله لايحب المفسدين. القصص: 77

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang-orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (Al Qashash: 77).

Rasulullah SAW menyatakan bahwa Allah SWT menyukai orang Mu’min yang kuat dalam segala hal sehingga mampu bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup dalam rangka beribadah kepadaNya dan Allah sangat membenci orang yang lemah dan bermalas-malasan.

عن ابي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: المؤمن القوي خير واحب الى الله من المؤمن الضعيف وفى كل خير احرص على ماينفعك واستعن بالله ولا تعجز وإن أصابك شيئ فلا تقل لو أني فعلت كان كذاوكذا ولكن قل قدرالله وماشاء فعل فإن لو تفتح عمل الشيطان. رواه مسلم

Dari Abi Hurairah RA berkata, telah bersabda Rasulullah SAW: “Mu’min yang kuat lebih bagus dan lebih disukai Allah ketimbang Mu’min yang lemah. Dan dalam setiap kebaikan senang/ambisilah atas apa-apa yang mendatangkan kebaikan padamu dan mintalah tolong kepada Allah dan janganlah lemah. Dan apabila suatu musibah menimpamu maka janganlah kamu berkata: “Andaikata aku melakukan begini, pasti akan begini-begini”. Akan tetapi katakanlah: “Allah telah menentukan qadar kepadaku dan apa saja yang Allah kehendaki akan terjadi”. Karena kata-kata “Jikalau” itu membuka perbuatan syaithan”. (HR. Muslim).

Allah dalam salah satu firmanNya juga menegaskan:

وليخشى الذين لو تركوا من خلفهم ذرية ضعافا خفوا عليهمص فليتقواالله وليقولوا قولا شديدا. النساء: 9

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”. (An Nisa: 9).

Sudahkah kita melakukan yang terbaik di tahun lalu? Marilah kita segera berbenah menuju yang diridhaiNya jika selama ini banyak maksiat yang kita lakukan. Manfaatkanlah setiap kesempatan yang ada untuk kita penuhi dengan beragam karya untuk kemajuan dunia dan akhirat dalam rangka beribadah kepadaNya. Jangan biarkan setiap kesempatan berlalu tanpa arti. Hadis Rasulullah SAW:

عن ابن عباس رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: نعمتان مغبون فيهما كثيرمن الناس: الصحة والفراغ. رواه البخاري

“Dari Ibnu Abas berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu oleh keduanya, ialah: Sehat dan waktu luang” (HR. Bukhari).
Dan lebih jauh Rasul SAW menyatakan:

اغتنم خمس قبل خمس: حياتك قبل موتك وصحتك قبل سقمك وفراغك قبل شغلك وشبابك قبل هرمك وغناك قبل فقرك. رواه الحاكم والبيهقي واحمد

“Pergunakanlah dengan baik lima kesempatan sebelum datang lima yang lain: Hidupmu sebelum matimu, sehatmu sebelum sakitmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, masa mudamu sebelum masa tuamu dan kayamu sebelum fakirmu”. (HR. Hakim, Baihaqi dan Ahmad)

Mulailah dari detik ini kita niatkan setiap aktivitas untuk beribadah dan jangan lagi pernah menunda-nunda. Ibnu Umar dalam lanjutan hadis di awal tulisan ini mengatakan:

وكان ابن عمر رضي الله عنهما يقول: إذا أمسيت فلا تنتظرالصباح وإذا أصبحت فلا تنتظرالمساء وخذ من صحتك لمرضك ومن حياتك لموتك

“Adalah Ibnu Umar RA ia berkata: “Jika engkau berada di waktu sore maka janganlah menunggu-nunggu pagi, dan jika engkau berada di waktu pagi maka janganlah engkau menunggu-nunggu waktu sore. Manfaatkanlah waktu sehatmu untuk sakitmu dan waktu hidupmu untuk matimu”.

Selalulah bertaqarrub kepadaNya dan memohon pertolonganNya. Ingatlah Allah lebih senang untuk selalu dekat dengan kita lebih dari senang kita untuk mendekatiNya. Rasulullah SAW bersabda:

عن انس رضي الله عنه عن النبى صلى الله عليه وسلم فيمايرويه عن ربه عزوجل قال: إذا تقرب العبد الي شبرا تقربت اليه ذراعا وإذا تقرب الي ذرعا تقربت منه باعا وإذا اتاني يمشي أتيته هرولة. رواه البخاري

Dari Anas RA dari Nabi SAW yang beliau meriwayatkan dari Tuhannya Allah Azza wa Jalla, Allah berfirman: “Apabila seorang hamba berusaha mendekatiKu satu jengkal maka Aku akan dekati dia satu hasta. Dan bila ia mendakatiKu satu hasta, maka Aku akan dekati dia satu rentang tangan. Dan jika ia mendatangiKu dengan berjalan, maka Aku akan datangi dia dengan cepat. (HR. Bukhari)

Demikianlah mudah-mudahan kita senantiasa berusaha untuk lebih baik di tahun ini dan juga masa-masa yang akan datang. Ingat selalu sabda Nabi SAW. “Barangsiapa hari ini lebih baik dari hari kemarin dialah orang yang beruntung. Barangsiapa hari ini sama seperti hari kemarin dialah orang yang rugi dan Barangsiapa hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah orang yang celaka”.

Sekelumit Perjalanan Hidup Manusia Di Hari Kiamat (Renungan)

SEKELUMIT PERJALANAN HIDUP MANUSIA DI HARI KIAMAT
DALAM HADIS RASULULLAH SAW
(Renungan)

Dari Abi Hurairah ia berkata: “Pada suatu hari Rasulullah SAW. disuguhi sepotong daging, dihaturkan kepada beliau potongan kaki kambing, Rasulullah merasa takjub dengan suguhan itu, lalu beliau menggigit satu gigitan kemudian bersaba”: “Akulah penghulu manusia pada hari kiamat, tahukah kamu hal ini?. Pada hari kiamat nanti Allah akan mengumpulkan seluruh manusia dari yang paling awal diciptakan hingga yang paling akhir di satu padang (tempat yang luas), mereka dapat mendengar seruan, pandangan mereka tidak terhalang dan mataharipun didekatkan. Mereka menanggung kesulitan dan kesusahan yang mereka tidak kuasa dan mampu untuk memikulnya. Berkatalah sebagian manusia kepada sebagian yang lain: “Tahukah kamu bagaimana keadaanmu sekarang?, Tahukah kamu apa yang menimpamu sekarang?. Carilah orang yang dapat memintakan syafa’at kepada Tuhanmu untuk kamu semua!”. Lalu berkata lagi sebagian manusia kepada sebagian yang lain: “Ayo datangi Adam!”. Lalu mereka semua mendatangi Adam, dan mereka berkata: “Wahai Adam!, Engkaulah bapak manusia, Allah telah menciptakan kamu dengan kekuasaanNya, Allah meniupkan ruh kepadamu dan memerintahkan para Malaikat dan mereka bersujud kepadamu. Mintakanlah syafa’at untuk kita kepada Tuhanmu!, bukankah engkau melihat bagaimana keadaan kita sekarang?!, Bukankah engkau melihat beban derita yang kita tanggung?!”. Lalu Adam menjawab: “Sungguh, Tuhanku hari ini teramat murka kepadaku, Dia belum pernah murka yang seperti ini sebelumnya dan Dia tidak akan pernah lagi murka yang seperti ini nanti, Tuhanku dulu melarangku memakan buah suatu pohon, tapi diriku…, diriku telah mendurhakaiNya..!. Pergilah…!, pergilah kamu semua menemui yang selain aku, pergilah temui Nuh!”. Lalu mereka semua mendatangi Nuh dan mereka berkata: “Wahai Nuh!, Engkaulah Rasul yang pertama diutus di muka bumi, Allah menyebutmu dengan ‘Abdan Syakura’ (hamba yang pandai bersyukur), mintakanlah syafa’at kepada Tuhanmu untuk kita!. Bukankah engkau melihat bagaimana keadaan kita?!. Bukankah engkau melihat beban derita yang kita pikul?!”. Lalu Nuh berkata kepada mereka: “Sungguh, Tuhanku sangat muraka hari ini, Dia tidak pernah murka yang seperti ini sebelumya, dan tidak akan pernah murka yang seperti ini nanti. Sungguh, aku dulu berdakwah mengajak kaumku…, tapi biarlah aku mengurus diriku saja…, diriku saja!. Pergilah kamu semua menemui selain aku, Pergilah kepada Musa SAW!”. Lalu mereka mendatangi Musa SAW. dan berkata: “Wahai Musa!. Engkau adalah rasul Allah, Allah telah memberimu keutamaan dengan risalahNya, juga dengan Allah berfirman langsung kepada manusia. Mintakanlah syafa’at untuk kita kepada Tuhanmu!. Bukankah engkau melihat bagaimana keadaan kita?! Bukankah Engkau melihat beban derita yang kita pikul?!”. Lalu Musa SAW. berkata kepada mereka: “Sungguh, Tuhanku teramat murka hari ini, Dia tidak pernah murka yang seperti ini sebelumnya dan tidak akan pernah lagi murka seperti ini nanti. Sungguh, aku dulu telah membunuh seseorang yang aku tidak diperintahkan untuk membunuhnya!. Aku mengurus diriku sendiri…!, diriku sendiri…! Pergilah kamu semua kepada Isa SAW!.”. Lalu mereka berkata: “Wahai Isa!. Engkau adalah Rasul Allah, engkau berbicara kepada manusia ketika bayi, kalimat dan ruh Allah letakkan kepada Maryam. Mintakanlah syafa’at untuk kita kepada Allah!. Bukankah engkau melihat bagaimana keadaan kita sekarang?!. Bukankah engkau melihat beban derita yang menimpa kita sekarang?!”. Lalu Isa SAW. berkata kepada mereka: “Sungguh, Tuhanku teramat murka hari ini, Dia tidak pernah murka yang seperti ini sebelumnya dan tidak akan pernah lagi murka yang seperti ini nanti”. Dan Isa tidak menyebutkan dosanya. “Aku mengurus diriku saja, …! Diriku saja…! Pergilah kamu semua kepada yang selain aku!. Pergilah kepada Muhammad!”. Lalu mereka semua mendatangiku, mereka semua berkata: “Wahai Muhammad!. Engkau rasul Allah dan penutup para Nabi. Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang terdahulu dan yang terakhir. Mintakan syafa’at untuk kita kepada Tuhanmu!”. Lalu aku mendatangi bawah arsy’ dan aku jatuh bersujud kepada Tuhanku. Kemudian Allah membuka diriNya atasku dan memberi ilham kepadaku dari sifat Maha TerpujiNya, dan pujian terbaik adalah atasNya. Allah belum pernah membuka diri kepada seorangpun sebelumku, lalu Allah berfirman: “Wahai Muhammad!, Angkat kepalamu dan mintalah sesuatu, engkau akan Aku beri. Mintalah syafa’at, Aku akan beri syafa’at”. Lalu kuangkat kepalaku dan aku berkata: “Ya Tuhanku! Umatku…!, Umatku…!”. Lalu Allah menjawab: “Wahai Muhammad!, Masuklah ke surga dari umatmu yang tidak terkena hisab melalui pintu surga sebelah kanan. Mereka adalah sekelompok manusia yang dapat masuk dari pintu itu!”. Demi jiwaku yang ada dikekuasaanNya, sesungguhnya jarak antara dua daun pintu dari pintu-pintu surga itu seperti jarak antara Mekah dan Hijr atau seperti antara Mekah dan Basrah”. (HR. Muslim).

Diterjemahkan dari hadis dalam kitab Shoheh Muslim juz awal kitab Al-Iman Bab Adna Ahlul Jannah Manzilatan Fiha. Dalam kitab yang sama Nabi Muhammad SAW. menyebutkan bahwa penghuni surga yang masuk surga tanpa hisab hanyalah 70000 orang saja dari semua umat manusia.

“Dari Abi Hurairah, sesungguhnya Nabi SAW. bersabda: “70000 orang dari umatku masuk surga tanpa hisab”. Berkata seorang laki-laki: “Wahai Rasulullah, berdo’alah kepada Allah agar Allah menjadikan aku termasuk diantara mereka”. Lalu Nabi berdo’a: “Ya Allah!, jadikanlah laki-laki itu termasuk diantara mereka”. Kemudian berdiri yang lain dan berkata: “Ya Rasulullah!, berdoalah kepada Allah agar Allah menjadikan aku termasuk diantara mereka”. Lalu Nabi menjawab: “Wah, sudah kedahuluan sahabat ‘Akasah”. (HR. Muslim).

Berbuat Dengan Ikhlas Karena Allah SWT.

BERBUAT DENGAN IKHLAS KARENA ALLAH SWT.
Oleh: Isa Ansori

Tujuan Hidup Manusia Adalah Beribadah Kepada Allah dengan Ikhlas

Allah mengangkat manusia sebagai khalifah di muka bumi yang diberi amanat dan kekuasaan untuk mengatur dan mendayagunakan bumi untuk kemakmuran dan kesejahteraan umat manusia dalam upaya pengabdiannya kepada Allah SWT. Firman Allah:

إناعرضناالامانةعلىالسموت والارض والجبال فأبين أن يحملنها واسفقنا منها وحملها الانسان انه كان ظلوما جهولا (الاحزاب: 72

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan menghianatinya dan dipikullah amanat itu oleh manusia, sesungguhnya manusia itu amat Dzalim dan amat bodoh” (Al Ahzab: 72).

Amanat yang dimaksud adalah perjanjian yang dibuat antar manusia dengan Allah ketika di dalam alam kandungan ibunya. Allah berfirman

وإذأخذربك من بني ادم من ظهورهم ذريتهم واشهدهم على انفسهم الست بربكم قالوا بلى شهدنا ان تقولوا يوم القيمة اناكنا عن هذا غفلين (الاعراف: 172

“Dan( ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul Engkau Tuhan kami, kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keEsaan Tuhan)”. (Al A’rof: 172).

Sesungguhnya inti dari amanat Allah tersebut adalah kesanggupan umat manusia untuk selalu mengabdi dan beribadah kepada Allah sepanjang hidupnya di dunia hingga akhirat. Ini sesuai dengan tujuan Allah menciptakan umat manusia, adalah untuk semata-mata menyembah, mengabdi, memuji, mengagungkanNya dan mengakui kekuasaanNya, juga mengakui kedudukan manusia sebagai hambaNya. Allah berfirman:

وما خلقت الجن والإنس الا ليعبدون (الذريات: 56)

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu. (Adzariyat: 56).

Karenanya, apapun wujud gerak panca indera manusia dalam melakukan proses menunaikan amanatnya baik dalam bentuk ibadah mahdoh seperti shalat lima waktu, puasa, zakat, haji ataupun ibadah ghoiru mahdhoh seperti bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, melakukan ibadah sosial, mengurus masyarakat, amar ma’ruf nahi munkar bahkan dalam setiap hirupan napas, kedipan mata, gerakan tangan dan kaki, dan semua gerak anggauta badan lainnya dan lebih bahkan lagi gerak-gerik hati manusia hendaknya diniatkan beribadah lillahi ta’ala dan untuk mendapatkan ridho Allah SWT.

Karena memang semua gerak-gerik panca indera dan hati akan ditanya oleh Allah pada hari kiamat, sudahkah mereka pada waktu di dunia digunakan untuk beribadah kepada Allah, ataukah malah untuk bermaksiat kepadaNya. Allah berfirman:

ولاتقف ماليس لك به علم ان السمع والبصر والفؤاد كل اولئك كان عنه مسئولا (الاسرأ: 36

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggunganjawabnya”. (Al Isro: 36).

Pada hari kiamat justru tangan dan kaki akan bersaksi terhadap apa yang mereka lakukan. Firman Allah:

اليوم نختم على افواههم وتكلمناايدهم وتشهد ارجلهم بماكانوا يكسبون (يس: 65

“Pada hari kiamat Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan”. (Yasin: 65).

Allah menginginkan agar manusia ikhlas dalam menggerakkan hati dan anggauta badannya baik ketika beribadah mahdhoh atau ghoiru mahdhoh, ialah murni karena beribadah kepadaNya dan mengharapkan ridhaNya. Sebagaimana Firman Allah:

وما امروا الا ليعبدالله مخلصين له الدين حنفاء ويقيمواالصلاةويؤتواالزكاة وذلك دين القيمة (البينة: 5)

“Dan mereka tidaklah disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam menjalankan agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus” (Al Bayyinah: 5).

Niat lillahi Ta’ala Kunci Keikhlasan

Kita telah tahu betapa pentingnya ikhlas lilLahi Ta’ala dalam setiap aktivitas hidup. Kunci penentu keikhlasan terletak pada niat saat awal kita melakukan suatu aktivitas. Tidak berniat atau salah dalam berniat akan berakibat fatal, karena dapat berujung tidak bernilai dimata Allah. Nilai akhir suatu perbuatan dalam Islam tergantung pada niat si pelaku perbuatan. Rasulullah SAW. bersabda:

وعن أمير المؤمنين أبى حفص عمربن الخطاب بن نفيل بن عبدالعزي بن رياح ابن عبدالله بن قرط بن زاح بن عدي بن كعب بن لؤى بن غالب القرشى العدوي رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله ص م يقول: إنما الأعمال بالنيات وانما لكل امرئ ما نوى, فمن كانت هجرته الى الله ورسوله فهجرته الى الله ورسوله, ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها اوامرأة ينكحها فهجرته الى ما هاجر اليه. متفق عليه.

“Dari Amirul Mukminin Abi Hafs Umar bin Khatab bin Nufail bn Abdul Uza bin Riyah ibn Abdullah bin Qarth bin Zah bin Adi bin Kaab bin Lu’ay bin Ghalib al-Qurasy al Adwy ra. Berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung dengan niatnya, dan sesungguhnya setiap orang (mendapatkan balasan dari Allah) sesuai apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa hijrahnya karena Allah dan RasulNya, maka hijrahnya (dibalas oleh Allah) karena Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa hijrahnya karena untuk mendapatkan dunia maka ia mendapat dunia atau seorang perempuan yang akan ia nikahi maka hirjah dia itu kepada apa yang ia hijrahi”. (HR. Bukhari Muslim).

Hendaklah selalu kita berniat karena Allah dan mencari ridha Allah dalam setiap gerak-gerik anggauta badan kita, dengan demikian manakala kita akan melakukan suatu perbuatan yang dibenci Allah hati akan menegur: “Jangan lakukan, ini tidak karena Allah”.

Amal-Amal Perusak Keikhlasan lillahi Ta’ala

Dalam proses menunaikan amanat Allah, banyak godaan syaithan datang mengganggu keteguhan dan keikhlasan manusia dalam beribadah kepadaNya. Karena memang Syaithan senantiasa mengajak manusia ke jalan kesesatan untuk mereka jadikan teman hidup di neraka. Semua orang akan menjadi kawan Syaithan kecuali hamba-hamba Allah yang betul-betul ikhlas dalam beribadah kepadaNya.

قال رب بمااغويتني لازينن لهم فى الارض ولاغوينهم اجمعين. الا عبادك منهم المخلصين. قال هذا صرط مستقيم. ان عبادي ليس لك عليهم سلطن الا من اتبعك من الغاوين. وان جهنم لموعدهم اجمعين (الحجر: 39-34)

“Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka (manusia) memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka. Allah berfirman: “Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Akulah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hambaku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat. Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut Syaithan) semuanya. (Hijr: 39-43).

Amalan-amalan Syaithan yang dapat merusak keikhlasan seseorang dalam beribadah kepada Allah adalah:

1. Syirik, adalah perbuatan mensekutukan Allah. Seseorang percaya bahwa Allah adalah Tuhannya dan kepadaNya ia mengabdi, namun dalam hatinya ia juga menganggap ada sesuatu lain yang dapat memberinya pertolongan, kekuatan, kehormatan dan lainnya, seperti dukun, azimat, tahta, kekuasan dan sebagainya, ini berarti ia tidak ikhlas dalam mengabdi kepada Allah. Padahal hanya Allahlah yang dapat memberi pertolongan, kekuatan dan lainnya. Segala apapun di dunia ini adalah milik Allah termasuk jiwa raganya.

2. Riya, adalah perbuatan memamerkan suatu yang dimiliki seseorang kepada orang lain dan merasa bangga dan senang apabila orang lain takjub dan kagum dengan apa yang ia pamerkan, ia senang orang lain memuji pada apa yang ia miliki. Orang riya’ lupa bahwa manusia tidak memiliki apapun, karena segala sesuatu adalah milik Allah, InnalilLah wa inna ilaiHi roji’un. Ia tidak ikhlas untuk menyerahkan bahwa segala sesuatu adalah milik Allah, ia tidak memiliki apapun bahkan jiwa dan raganya.

3. Sombong/Takabur, adalah perasaan memandang remeh dan rendah orang lain, dan menganggap dirinya orang yang super paling dari perasaan yang ia banggakan. Dia merasa bahwa dia adalah yang paling pandai, cantik, kaya, dan sebagainya. Orang lain harus mengakui itu dan merasa bangga bila orang lain merunduk-runduk dihadapannya. Orang sombong tidak ikhlas bahwa Allahlah yang paling hebat dalam segala hal. Ia lupa bahwa apapun adalah milik Allah dan ia tidak mempunyai sedikitpun yang dapat disombongkan.

4. Dan seluruh perasaan-persaan yang diluar lilLahi Ta’ala.

Aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah Menyesatkan Umat


ALIRAN AL-QIYADAH AL-ISLAMIYAH MENYESATKAN UMMAT
Oleh: Isa Ansori

Akhir-akhir ini media massa ramai memberitakan tentang al-Qiyadah al-Islamiyah, satu aliran baru dalam Islam yang dipandang sesat, menyusul telah ditetapkannya aliran itu sebagai aliran sesat oleh Majlis Ulama Indonesia, Kejati DKI dan polisi. Kontroversi al-Qiyadah sebagai aliran sesat ini muncul, setelah beberapa bagian dari ajarannya menabrak pakem syari’at yang telah diyakini shoheh kebenarannya (mujma’ alaih) oleh mayoritas umat Islam di dunia.
Ajaran-ajaran kontroversial al-Qiyadah yang dianggap sesat oleh MUI dan mayoritas umat Islam itu adalah:
1. Pengakuan Ahmad Mushadek sebagai pimpinan utama al-Qiyadah yang mendakwakan dirinya sebagai Rasul (utusan) Allah melalui wahyu yang ia klaim telah ia terima dari Allah SWT setelah menjalani pertapaan selama 40 hari 40 malam di sebuah gubuk di villanya yang berada di gunung Bundan Bogor. Selanjutnya Mushadek merubah syahadat menjadi “Asyhadu alla ilaha illa Allah, wa asyhadu anna al masih al maw’ud Rasulullah”. Ia menyebut dirinya sebagai “Al-Masih al-Maw’ud” yang berarti Nabi yang dijanjikan Allah akan muncul menjelang hari kiamat. Dalam salah satu hadis Nabi Muhammad SAW, nabi yang dimaksud adalah Nabi Isa Alaihi Salam. Dan dalam hadis yang lain disebut dengan al-Mahdi yang bertugas menghancurkan Dajjal.
2. Ahmad Mushadek menganggap ajarannya adalah ajaran baru yang datang dari Allah dan belum final yang juga berperan untuk meluruskan ajaran nabi sebelumnya termasuk Muhammad SAW, sehingga Mushadek mengajarkan kepada para pengikutnya bahwa sholat, puasa Ramadhan, zakat, haji dan kewajiban-kewajiban lainnya adalah ibadah yang belum diwajibkan oleh Allah, sehingga tidak wajib dilaksanakan.
Ajaran Mushadek menjadi sangat kontroversial karena bersentuhan langsung dengan rukun iman dan Islam. Bila yang dimaksud Mushadek sebagai Nabi yang diturunkan kembali oleh Allah SWT adalah Nabi Isa alaihissalam, Mushadek telah memanfaatkan dan memutarbalikkan hadis Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa Nabi Isa akan turun ke dunia sebelum datang kiamat. Mushadek mendakwakan dirinya sebagai al-masih jelmaan nabi Isa yang dijanjikan Allah (al-maw’ud) untuk meluruskan ajaran-ajaran rasul sebelumnya termasuk Muhammad SAW. Padahal dalam hadis itu sangat jelas bahwa nabi Isa turun ke dunia adalah untuk mengokohkan ajaran Muhammad SAW dan meluruskan ajaran yang pernah ia bawa sebelumnnya yang telah banyak diselewengkan oleh para pengikutnya. Terjemahan dari matan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim riwayat dari Abi Hurairah adalah sebagai berikut: Telah bersabda Rasulullah SAW: “Demi Allah yang jiwaku ada dikekuasaanNya, sungguh segera akan turun di tengah-tengah kamu anak laki-laki Maryam sebagai hakim yang adil, ia akan memecahkan salib-salib, membunuh babi-babi, menghapuskan pajak-pajak, mensedekahkan harta benda, sehingga tidak ada yang mau menerimannya seorangpun”. (HR. Bukhari Muslim).

عن أبى هريرة رضي الله قال قال رسول الله ص م. والذي نفسى محمد بيده ليوشكن أن ينزل فيكم إبن مريم حكما عدلا فيكسر الصلب ويقتل الحنزير ويضع الجزية ويفيض المال حتى لا يقبله احد… (متفق عليه)

Dari hadis tersebut jelas bahwa Nabi Isa diturunkan Allah untuk meluruskan kembali ajaran beliau sendiri sebab terdapat sebagian dari ajarannya telah diselewengkan oleh para pengikutnya, dan beliau adalah sebagai hakim yang adil dengan mengokohkan ajaran Muhammad SAW.
Dan jika yang dimaksudkan oleh Mushadek bahwa dia adalah Imam Mahdi, Imam Mahdi tidak diturunkan oleh Allah untuk menyebarkan syari’at baru, tetapi tetap tunduk kepada syari’at Rasulullah SAW. bahkan membela dan melindunginya dari usaha perusakan-perusakan yang dilakukan oleh ulah Dajjal, bahkan beliau yang akan membunuhnya.
Dengan menganggap dirinya sebagai al-masih al-maw’ud, Mushadek menganggap dirinya sebagai rasul baru yang membawa ajaran atau syari’at baru dan meluruskan ajaran atau syari’at Nabi Muhammad SAW. Ajaran seperti ini disamping bertentangan dengan hadis Rasulullullah SAW diatas juga bertentangan dengan hadis Nabi SAW. lainnya yang juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim riwayat dari Abu Hurairah:

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله ص م قال إن مثلي ومثل الانبياء من قبلي كمثل رجل بني بيتا فأحسنه وأجمله إلا موضع لبنة من زاوية فجعل الناس يطوفون ويعجبون له ويقولون هلا وضعت هذه اللبنة قال فأنا الللبنة وأنا ختم النبين (رواه البخاري
ٍ
“Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya perumpamaan diriku dengan para Nabi sebelumku adalah seperti perumpamaan seorang laki-laki yang membangun sebuah rumah, ia berusaha membuat baik dan indah bangunan rumah tersebut, kecuali ada satu bagian yang terdapat penempatan batu bata di pucuknya, lalu manusia datang mengelilingi bangunan itu dan merasa ta’jub dengan keindahannya dan mereka berkata: “siapakah yang memasang batu bata ini?” Nabi bersabda: “Akulah pemasang batu bata itu, dan akulah penutup para Nabi”. (HR. Bukhari).
Dalam surat al-Ahzab 40, Allah berfirman:

ماكان محمد ابااحد من رجالكم ولكن رسول الله وخاتم النبين وكان الله بكل شيئ عليما (الاحزاب: 40

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki diantara kamu, tetapi Dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.

Ajaran al-Qiyadah al-Islamiyah selain menabrak dasar-dasar keimanan Islam juga menabrak dasar-dasar keIslaman. Al-Qiyadah yang menganggap dirinya sebagai ajaran baru memandang kewajiban shalat, puasa, zakat, haji dan ajaran Islam lainnya yang dibawa Nabi SAW. adalah ajaran lama yang tidak wajib dilaksanakan. Al-Qiyadah merumuskan bentuk ibadahnya sendiri menurut wahyu yang diterima oleh Mushadek seperti kewajiban shalat di waktu malam. Pembaharuan ibadah model Mushadek ini jelas bertentangan dengan ayat al-Qur’an diantaranya surat al-Bayyinah ayat 5. Disini tampak ketidakkonsistenan Mushadek, di satu sisi dia sering menggunakan ayat-ayat al-Qur’an untuk mengukuhkan keyakinannya dihadapan murid-muridnya seperti yang ia ajarkan dalam setiap pengajian-pengajian kelompoknya, sementara ajaran inti dari al-Qur’an tentang shalat, zakat, puasa, haji dan yang lainnya malah ia tinggalkan. Disini lebih tepat dikatakan Mushadek menodai Islam. Sesungguhnya akan lebih aman jika Mushadek mendeklarasikan agama lain dan bukan bernama Islam, sehingga tidak akan menimbulkan benturan dengan pengikut-pengikut Islam yang mengimani Muhammad SAW sebagai nabi akhir jaman.
Dalam surah al-Bayyinah ayat 5 Allah berfirman:

وما أمروا الا ليعبدوا الله مخلصين له الدين حنفاء ويقيمواالصلوة ويؤتوا الزكوة وذلك دين القيمة. (الاحزاب: 5

“Dan mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan demikian itulah agama yang lurus”. (QS. Al-Bayyinah: 5).

قال رسول الله ص م بني الإسلام على خمس شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله وإقام الصلاة وإيتاء الزكاة وحج البيت و الصوم رمضان. (رواه مسلم

Bersabda Rasulullah SAW: “Islam didiran di atas lima pondasi: 1). Syahadat sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hambaNya dan RasulNya; 2). Mendirikan shalat; 3). Menunaikan zakat; 4).Haji ke Baitullah; dan 5). Puasa bulan Ramadhan” (HR. Muslim)
Rasulullah SAW bersabda:

العهد الذي بيننا ؤبينهم الصلاة فمن تركها فقد كفر. (رواه الترمذي

“Janji yang membedakan antara kita (orang Islam) dengan mereka (orang non Islam) adalah Shalat; maka barangsiapa meninggalkan shalat sungguh ia telah kafir (keluar dari Islam). (HR. Tarmidzi).
عن أبى هريرة عن رسول الله ص م أنه قال والذي نفسي محمد بيده لا يسمع بي أحد من هذه الأمة يهودي ولا نصراني ثم يموت ولم يؤمن بالذي أرسلت به الا كان من اصحاب النار. (رواه مسلم

Dari Abi Hurairah dari Nabi SAW beliau bersabda: “Demi Allah yang diri Muhammad ada dalam kekuasaanNya, Tidak mendangarkanku seorang umat dari umat-umat baik Yahudi atau Nasrani kemudian dia mati dan tidak beriman dengan risalah yang aku diutus untuknya kecuali Dia adalah penghuni neraka”. (HR. Muslim)

Demikian mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat untuk menjelaskan kedudukan aliran al-Qiyadah al-Islamiyah dipandang dari ajaran Islam yang dibawa oleh Rosulullah SAW., dan memagari para pemeluk Islam yang belum terpengaruh agar tidak masuk ke dalam aliran itu, dan mengajak kepada yang sudah masuk ke dalamnya untuk bertobat dan kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya. Catatan terpenting adalah agar umat Islam tidak main hakim sendiri dalam menghadapi kelompok ini, tetapi menyerahkan penyelesaian urusan ini kepada pemerintah (kepolisian).