Berbuat Dengan Ikhlas Karena Allah SWT.

BERBUAT DENGAN IKHLAS KARENA ALLAH SWT.
Oleh: Isa Ansori

Tujuan Hidup Manusia Adalah Beribadah Kepada Allah dengan Ikhlas

Allah mengangkat manusia sebagai khalifah di muka bumi yang diberi amanat dan kekuasaan untuk mengatur dan mendayagunakan bumi untuk kemakmuran dan kesejahteraan umat manusia dalam upaya pengabdiannya kepada Allah SWT. Firman Allah:

إناعرضناالامانةعلىالسموت والارض والجبال فأبين أن يحملنها واسفقنا منها وحملها الانسان انه كان ظلوما جهولا (الاحزاب: 72

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan menghianatinya dan dipikullah amanat itu oleh manusia, sesungguhnya manusia itu amat Dzalim dan amat bodoh” (Al Ahzab: 72).

Amanat yang dimaksud adalah perjanjian yang dibuat antar manusia dengan Allah ketika di dalam alam kandungan ibunya. Allah berfirman

وإذأخذربك من بني ادم من ظهورهم ذريتهم واشهدهم على انفسهم الست بربكم قالوا بلى شهدنا ان تقولوا يوم القيمة اناكنا عن هذا غفلين (الاعراف: 172

“Dan( ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul Engkau Tuhan kami, kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keEsaan Tuhan)”. (Al A’rof: 172).

Sesungguhnya inti dari amanat Allah tersebut adalah kesanggupan umat manusia untuk selalu mengabdi dan beribadah kepada Allah sepanjang hidupnya di dunia hingga akhirat. Ini sesuai dengan tujuan Allah menciptakan umat manusia, adalah untuk semata-mata menyembah, mengabdi, memuji, mengagungkanNya dan mengakui kekuasaanNya, juga mengakui kedudukan manusia sebagai hambaNya. Allah berfirman:

وما خلقت الجن والإنس الا ليعبدون (الذريات: 56)

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu. (Adzariyat: 56).

Karenanya, apapun wujud gerak panca indera manusia dalam melakukan proses menunaikan amanatnya baik dalam bentuk ibadah mahdoh seperti shalat lima waktu, puasa, zakat, haji ataupun ibadah ghoiru mahdhoh seperti bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, melakukan ibadah sosial, mengurus masyarakat, amar ma’ruf nahi munkar bahkan dalam setiap hirupan napas, kedipan mata, gerakan tangan dan kaki, dan semua gerak anggauta badan lainnya dan lebih bahkan lagi gerak-gerik hati manusia hendaknya diniatkan beribadah lillahi ta’ala dan untuk mendapatkan ridho Allah SWT.

Karena memang semua gerak-gerik panca indera dan hati akan ditanya oleh Allah pada hari kiamat, sudahkah mereka pada waktu di dunia digunakan untuk beribadah kepada Allah, ataukah malah untuk bermaksiat kepadaNya. Allah berfirman:

ولاتقف ماليس لك به علم ان السمع والبصر والفؤاد كل اولئك كان عنه مسئولا (الاسرأ: 36

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggunganjawabnya”. (Al Isro: 36).

Pada hari kiamat justru tangan dan kaki akan bersaksi terhadap apa yang mereka lakukan. Firman Allah:

اليوم نختم على افواههم وتكلمناايدهم وتشهد ارجلهم بماكانوا يكسبون (يس: 65

“Pada hari kiamat Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan”. (Yasin: 65).

Allah menginginkan agar manusia ikhlas dalam menggerakkan hati dan anggauta badannya baik ketika beribadah mahdhoh atau ghoiru mahdhoh, ialah murni karena beribadah kepadaNya dan mengharapkan ridhaNya. Sebagaimana Firman Allah:

وما امروا الا ليعبدالله مخلصين له الدين حنفاء ويقيمواالصلاةويؤتواالزكاة وذلك دين القيمة (البينة: 5)

“Dan mereka tidaklah disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam menjalankan agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus” (Al Bayyinah: 5).

Niat lillahi Ta’ala Kunci Keikhlasan

Kita telah tahu betapa pentingnya ikhlas lilLahi Ta’ala dalam setiap aktivitas hidup. Kunci penentu keikhlasan terletak pada niat saat awal kita melakukan suatu aktivitas. Tidak berniat atau salah dalam berniat akan berakibat fatal, karena dapat berujung tidak bernilai dimata Allah. Nilai akhir suatu perbuatan dalam Islam tergantung pada niat si pelaku perbuatan. Rasulullah SAW. bersabda:

وعن أمير المؤمنين أبى حفص عمربن الخطاب بن نفيل بن عبدالعزي بن رياح ابن عبدالله بن قرط بن زاح بن عدي بن كعب بن لؤى بن غالب القرشى العدوي رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله ص م يقول: إنما الأعمال بالنيات وانما لكل امرئ ما نوى, فمن كانت هجرته الى الله ورسوله فهجرته الى الله ورسوله, ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها اوامرأة ينكحها فهجرته الى ما هاجر اليه. متفق عليه.

“Dari Amirul Mukminin Abi Hafs Umar bin Khatab bin Nufail bn Abdul Uza bin Riyah ibn Abdullah bin Qarth bin Zah bin Adi bin Kaab bin Lu’ay bin Ghalib al-Qurasy al Adwy ra. Berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung dengan niatnya, dan sesungguhnya setiap orang (mendapatkan balasan dari Allah) sesuai apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa hijrahnya karena Allah dan RasulNya, maka hijrahnya (dibalas oleh Allah) karena Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa hijrahnya karena untuk mendapatkan dunia maka ia mendapat dunia atau seorang perempuan yang akan ia nikahi maka hirjah dia itu kepada apa yang ia hijrahi”. (HR. Bukhari Muslim).

Hendaklah selalu kita berniat karena Allah dan mencari ridha Allah dalam setiap gerak-gerik anggauta badan kita, dengan demikian manakala kita akan melakukan suatu perbuatan yang dibenci Allah hati akan menegur: “Jangan lakukan, ini tidak karena Allah”.

Amal-Amal Perusak Keikhlasan lillahi Ta’ala

Dalam proses menunaikan amanat Allah, banyak godaan syaithan datang mengganggu keteguhan dan keikhlasan manusia dalam beribadah kepadaNya. Karena memang Syaithan senantiasa mengajak manusia ke jalan kesesatan untuk mereka jadikan teman hidup di neraka. Semua orang akan menjadi kawan Syaithan kecuali hamba-hamba Allah yang betul-betul ikhlas dalam beribadah kepadaNya.

قال رب بمااغويتني لازينن لهم فى الارض ولاغوينهم اجمعين. الا عبادك منهم المخلصين. قال هذا صرط مستقيم. ان عبادي ليس لك عليهم سلطن الا من اتبعك من الغاوين. وان جهنم لموعدهم اجمعين (الحجر: 39-34)

“Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka (manusia) memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka. Allah berfirman: “Ini adalah jalan yang lurus; kewajiban Akulah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hambaku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat. Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut Syaithan) semuanya. (Hijr: 39-43).

Amalan-amalan Syaithan yang dapat merusak keikhlasan seseorang dalam beribadah kepada Allah adalah:

1. Syirik, adalah perbuatan mensekutukan Allah. Seseorang percaya bahwa Allah adalah Tuhannya dan kepadaNya ia mengabdi, namun dalam hatinya ia juga menganggap ada sesuatu lain yang dapat memberinya pertolongan, kekuatan, kehormatan dan lainnya, seperti dukun, azimat, tahta, kekuasan dan sebagainya, ini berarti ia tidak ikhlas dalam mengabdi kepada Allah. Padahal hanya Allahlah yang dapat memberi pertolongan, kekuatan dan lainnya. Segala apapun di dunia ini adalah milik Allah termasuk jiwa raganya.

2. Riya, adalah perbuatan memamerkan suatu yang dimiliki seseorang kepada orang lain dan merasa bangga dan senang apabila orang lain takjub dan kagum dengan apa yang ia pamerkan, ia senang orang lain memuji pada apa yang ia miliki. Orang riya’ lupa bahwa manusia tidak memiliki apapun, karena segala sesuatu adalah milik Allah, InnalilLah wa inna ilaiHi roji’un. Ia tidak ikhlas untuk menyerahkan bahwa segala sesuatu adalah milik Allah, ia tidak memiliki apapun bahkan jiwa dan raganya.

3. Sombong/Takabur, adalah perasaan memandang remeh dan rendah orang lain, dan menganggap dirinya orang yang super paling dari perasaan yang ia banggakan. Dia merasa bahwa dia adalah yang paling pandai, cantik, kaya, dan sebagainya. Orang lain harus mengakui itu dan merasa bangga bila orang lain merunduk-runduk dihadapannya. Orang sombong tidak ikhlas bahwa Allahlah yang paling hebat dalam segala hal. Ia lupa bahwa apapun adalah milik Allah dan ia tidak mempunyai sedikitpun yang dapat disombongkan.

4. Dan seluruh perasaan-persaan yang diluar lilLahi Ta’ala.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s